Yerik Afrianto Singgalen

Politeknik Perdamaian Halmahera

Abstrak

Industri seni kerajinan perak di desa Celuk, mengalami perkembangan yang pesat seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata Bali. Dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali mengalami peningkatakan. Adapun, kebiasaan wisatawan yang datang ke Bali, selalu meluangkan waktu untuk berbelanja cenderamata sebelum kembali ke daerah asal. Bali memiliki keragaman seni kerajinan yang dapat dijadikan cenderamata oleh wisatawan, salah satu bentuk seni kerajinan yang menjadi minat wisatawan mancanegara di Bali, ialah seni kerajinan perak yang berpusat di desa Celuk. Keberlangsungan industri seni kerajinan perak di Celuk, didukung oleh keselarasan antara pengusaha dan pengrajin dalam bekerjasama menjalankan usaha seni kerajinan perak. Ketahanan bisnis seni kerajinan perak hingga penelitian ini dilakukan, menunjukan adanya kemampuan pengelola dalam mengembangkan dan mempertahankan usaha menghadapi berbagai tantangan. Pengusaha dan pengrajin seni kerajinan perak di desa Celuk, tidak hanya mencakup penduduk lokal saja melainkan mencakup migran yang bekerja sebagai pengrajin di desa Celuk. Penelitian ini menggunakan perspektif Pierre Bourdieu tentang habitus, ranah, modal (modal sosial, budaya, ekonomi dan simbolik) dan praktik sebagai kerangka pikir dalam menguraikan pengalaman empirik penduduk lokal dan migran sebagai pengrajin maupun pengusaha ketika merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha seni kerajinan perak di desa Celuk. Hasil penelitian ini menunjukan adanya keterbatasan akses migran terhadap modal ekonomi dan simboli sehingga, migran memanfaatkan modal sosial dan budaya ketika merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha. Berbeda halnya dengan penduduk lokal, yang dapat memanfaatkan modal sosial dan budaya ketika merintis, modal ekonomi ketika mengembangkan usaha, dan modal simbolik dalam mempertahankan usaha. Perbedaan pemanfaatan modal antara penduduk lokal dan migran dalam perspektif Bourdieu menunjukan adanya pertarungan memperebutkan sumberdaya (modal) dalam ranah, dan membentuk habitus baru yakni diferensiasi dalam stratifikasi sosial antara penduduk lokal sebagai pengusaha dominan dan migran sebagai pengusaha subordinat. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat teori Pierre Bourdieu tentang habitus, ranah, modal dan praktik melalui pengalaman empirik pengusaha dan pengrajin seni kerajinan perak di desa Celuk.

Kata Kunci :   Modal, Pierre Bourdieu, Habitus, Ranah, Praktik, Modal Simbolik, Modal Sosial, Modal Budaya, Modal Ekonomi, Industri Seni Kerajinan Perak, Migrasi.

Pendahuluan

Perkembangan pariwisata mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di suatu daerah. Wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung ke tempat wisata, cenderung mengkonsumsi produk maupun jasa yang tersedia di lingkungan objek wisata untuk memenuhi kebutuhannya. Pengeluaran untuk konsumsi produk atau jasa oleh wisatawan salah satunya dapat berupa kegiatan belanja cenderamata sebagai kenang-kenangan, bukti perjalanan, atau sebagai hadiah untuk kerabat maupun keluarga di daerah asal. Aktivitas perbelanjaan cenderamata yang dilakukan wisatawan terhadap penyedia produk cenderamata dapat meningkatkan pendapatan pengusaha lokal dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal ditinjau dari meningkatnya angka rata-rata pendapatan masyarakat lokal setiap tahunnya.

Pariwisata Bali mengalami perkembangan sejak tahun 1960-an ketika mantan presiden Republik Indonesia yang bernama Soeharto mencanangkan Bali sebagai destinasi wisata di Indonesia[1]. Wisatawan mancanegara dari tahun ke tahun berdatangan ke Bali untuk berwisata, sehingga mendorong pembangunan akomodasi penunjang pariwisata. Seperti halnya pada tahun 1968 bandar udara Ngurah Rai Denpasar yang diperluas untuk berbagai maskapai penerbangan, sehingga wisatawan dalam jumlah banyak mulai berdatangan ke Bali. Sejak saat itu, pariwisata Bali senantiasa berkembang, sebagaimana ditunjukan dalam pertumbuhan jumlah wisatawan yang berkunjung ke pulau Bali pada tahun 1969-1973 jumlah wisatawan berkisar 885,665[2] dan saat ini tingkat kunjungan wisatawan ke pulau Bali telah mencapai 1.397.754 dan pada tahun 2014 tingkat kunjungan wisatawan mencapai 1.555.609 pada tahun 2015[3]. Hal ini, tentu saja sangat berdampak pada pertumbuhan industri pendukung pariwisata termasuk industri souvenir.

Kebudayaan dan seni masyarakat Bali, menjadi potensi wisata sekaligus daya tarikwisatawan mancanegara. Mayoritas masyarakat Bali pada umumnya menganut kepercayaan agama Hindu, di mana objek material kebudayaan dan kepercayaan masyarakat lokal, diwujudkan dalam bentuk karya seni. Sebagaimana, aktivitas seni tari maupun seni kerajinan di Bali sangat beragam, namun objek material kebudayaan seni kerajinan masyarakat Bali memiliki bentuk dan motif yang identik dengan kepercayaan atau kebudayaan lokal. Sebagai contoh seni kerajinan perak dengan motif naga yakni legenda dalam cerita yang di percaya oleh masyarakat Bali sebagai warisan kebudayaan yang diwujudkan dalam sebuah tarian adatyaitu tarian keris (Barong).

Seiring dengan berkembangnya pariwisata Bali, kebudayaan dan karya seni masyarakat Bali semakin di kenal oleh wisatawan mancanegara. Berkenan dengan karya senidi pulau Bali,terdapat desa yang dikenal sebagai pusat seni kerajinan perak atau kriya perak yaitu desa Celuk. Istilah kriya perak diberikan kepada masyarakat penyedia jasa maupun produk seni kerajinan perak karena latarbelakang sejarah dan kebudayaan masyarakat lokal yakni kelompok pengrajin perak yang dikenal dengan istilah soroh pande sebagai perintis usaha seni kerajinan perak yang mewariskan keterampilan sebagai pengrajin perak secara turun-temurun kepada keturunannya maupun masyarakat lokal yang ingin belajar menjadi pengrajin. Saat ini, sebagian besar penduduk desa Celuk memiliki matapencaharian sebagai pengusaha seni kerajinan perak.

Pengusaha seni kerajinan perak di desa Celuk mengalami peningkatan ekonomi seiring meningkatnya pertumbuhan pariwisata Bali, di mana wisatawan mancanegara yang berkunjung ke desa Celuk, membeli produk seni kerajinan perak sehingga meningkatkan pendapatan pengusaha lokal. Namun, hal-hal yang sangat esensial dalam keberlangsungan pariwisata seperti faktor keamanan wisatawan, juga mempengaruhi keberlanjutan usaha. Sebagaimana tragedi Bom Bali kedua yang menyebabkan keterbatasan akses wisatawan mancanegara ke pulau Bali berdampak pada penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke desa Celuk. Sehingga, pengusaha mengalami kendala dalam mengembangkan dan mempertahankan usaha dari kerugian yang di alami.

Pengusaha memiliki pengalaman belajar, merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha yang beragam. Sebagai penduduk desa Celuk, sebelum menjadi seorang pengusaha seni kerajinan perak, pekerjaan awal yang ditekuni ialah pekerjaan sebagai pengrajin. Keterampilan dasar sebagai pengrajin diperoleh dari lingkungan sekitar yakni orang-tua maupun kerabat dalam jangka waktu tertentu meningkatkan kemampuan produksi seni kerajinan perak hingga mampu menghasilkan karya seni yang berkualitas. Setelah, mampu melakukan produksi secara mandiri, pengrajin mulai merintis usahanya secara pribadi. Pengrajin yang mendapat dukungan orang-tua, disediakan tempat untuk produksi dan tempat menjual produk di halaman rumah pribadi, sedangkan pengrajin yang memiliki keterbatasan dalam hal biaya dan bangunan rumah, bekerja di tempat usaha kerabat atau keluarga untuk mengumpulkan pendapatan sebagai modal pengembangan usaha. Pengrajin yang telah memiliki tempat penjualan dan produksi, mempekerjakan tenaga kerja pengrajin dari luar desa Celuk sehingga dapat menunjang proses produksi. Seiring perkembangannya, fokus terhadap penjualan dalam menetapkan strategi produksi maupun pemasaran untuk memposisikan usaha di pasar seni kerajinan perak, membentuk identitas pelaku bisnis sebagai pengusaha seni kerajinan perak.

Berkembangnya pariwisata Bali dan industri seni kerajinan perak di desa Celuk menarik perhatian migran untuk bekerja sebagai pengrajin. Kesempatan kerja dan peluang untuk memperoleh pendapatan yang tinggi menjadi daya tarik migran untuk bekerja sebagai pengrajin di desa Celuk. Faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi keputusan untuk bermigrasi ialah adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi migran. Pengusaha seni kerajinan perak di desa Celuk menerima dan mempekerjakan migran sebagai pengrajin di tempat usahanya sehingga dapat menjaga keberlangsungan produksi sesuai dengan permintaan pembeli. Namun, dalam jangka waktu tertentu setelah migran beradaptasi dengan kondisi lingkungan desa Celuk dan telah memperoleh keterampilan menghasilkan seni kerajinan perak ketika bekerja sebagai pengrajin, serta memperoleh pendapatan yang cukup untuk merintis usaha secara mandiri, migran berhenti bekerja dari tempat pengusaha lokal dan membuka usaha jasa produksi secara mandiri di tempat kediaman sementara.

Migran sebagai pengrajin memiliki pengalaman merintis usaha, mengembangkan dan mempertahankan usaha. Migran sebagai pengrajin mengalami keterbatasan akses terhadap modal biaya untuk merintis usaha selayaknya pengusaha lokal, namun migran dapat mengakses pasar dan sumber daya bahan baku maupun perangkat produksi seiring dengan berkembangnya pariwisata Bali. Dalam upaya merintis usaha, migran sebagai pengrajin mengalokasikan pendapatan dari pekerjaan sebagai pengrajin sebelumnya untuk membeli bahan baku perak dan perangkat produksi, setelah itu migran mulai memproduksi sample dan memperkenalkannya kepada pengusaha lokal maupun pengepul sehingga memperoleh produksi pesanan. Produksi pesanan pembeli merupakan sumber pendapatan dari migran sebagai pengrajin yang hanya menyediakan jasa, sehingga untuk mengembangkan usahanya migran menjaga kepercayaan pembeli dan meningkatkan keterampilan maupun produktivitas untuk menghasilkan produk berkualitas sesuai dengan permintaan pasar.

Pengalaman pengusaha lokal maupun pengalaman migran ketika merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha seni kerajinan perak, tidak terlepas dari pemanfaatan modal seperti yang diuraikan oleh Bourdieu tentang habitus dan modal dalam upaya mencapai keberhasilan atau kesuksesan.Bentuk modal yang dimaksud ialah modal budaya, modal sosial, modal finansial, modal manusia, dan modal simbolik. Disisi lain, penelitian tentang pemanfaatan bentuk modal untuk mencapai keberhasilan atau kesuksesan oleh Pierre Bourdieu masih sangat terbatas. Sejauh ini, peneliti menemukan adanya penelitian yang dilakukan oleh Gomulia dan Manurung (2014) tentang identifikasi modal keluarga pada tiga UKM di Bandung yang membahas secara mendalam tentang peran modal dalam mengembangkan usaha, namun tidak secara mendalam mengkaji tentang pertarungan individu di arena (field) dalam memperebutkan modal ekonomi sebagaimana yang digambarkan Pierre Bourdieu, untuk mencapai keberhasilan. Selain itu, terdapat penelitian terdahulu yang lebih fokus mengkaji satu atau dua bentuk modal saja. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Moyes, dkk (2015) tentang pemanfaatan modal sosial dalam menciptakan usaha baru di daerah pedesaan, di mana fokus kajiannya terletak pada modal sosial sehingga tidak membahas peran modal budaya, ekonomi, dan modal simbolik. Demikian halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugraha (2009) yang secara mendalam mengkaji tentang modal budaya yaitu pengelolaan pengetahuan pengusaha sehingga tidak membahas modal sosial, ekonomi, simbolik secara mendalam.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini diharapkan dapat mengkaji secara mendalam tentang pemanfaatan modal (capital) oleh penduduk lokal dan migran sebagai pengrajin maupun pengusaha ketika merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha seni kerajinan perak di desa Celuk, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

Tinjauan Pustaka

Perspektif Pierre Bourdieu  mengenai habitus, ranah, modal dan praktik akan dimanfaatkan untuk menganalisa pengalaman berwirausaha para pengusaha seni kerajinan perak di desa Celuk, Bali. Teori Bourdieu digunakan sebagai kerangka teori untuk melihat secara mendalam trajektori pengusaha lokal maupun pengusaha migran dalam merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha seni kerajinan perak. Pada pembahasan ini akan diuraikan pandangan Bourdieu tentang habitus, ranah, modal dan praktik dalam konteks pemanfaatan modal dalam dinamika berwirausaha pada industri seni kerajinan perak.

Habitus, Ranah, Modal dan Praktik

A Set of durable and transposeable dispositions that is structured by the social conditions of the subjects and that, in turn, structures the perception and action of these subjects Bourdieu, (1977). Habitus merupakan keterampilan yang berasal dari tindakan praktis sehari-hari (seringkali tidak disadari) sehingga disebut tacit atau implicit knowledge yang dalam waktu tertentu menjadi kemampuan alami, dan mengalami perkembangan dalam suatu ruang lingkup (Pierre Bourdieu, 1982).

Sejajar dengan bekerjanya modal ekonomi dan infrastruktur ekonomi sebagai faktor produksi masyarakat, serta bekerjanya modal simbolik dan modal kultural serta supra struktur kultural sebagai reproduksi masyarakat, Bourdieu juga menawarkan konsep habitus untuk di satu pihak menolak determinasi penuh dari struktur, dan menolak pula pilihan bebas dari individu sebagai agen. Habitus adalah disposisi yang dimiliki individu untuk melakukan persepsi dan respon dengan cara tertentu terhadap lingkungan sekitarnya. Disposisi itu bersifat sosial karena merupakan kemampuan yang ditanamkan oleh lingkungan asal dari individu yang bersangkutan, ditanamkan ke dalam diri individu dari sejak kecil di lingkungan keluarga maupun di lingkungan kelompok sosialnya yang lain. Namun, disposisi itu karena proses penanamannya yang berlangsung lama dan terus menerus, juga seakan alamiah, beroperasi pada diri individu secara spontan dan instinktif. Karena merupakan proses sosial, habitus dimungkinkan oleh struktur, jadi terstrukturkan. Tetapi, karena tertanam begitu dalam, bersifat spontan dan instinktif, habitus tersebut menyatu dengan subjek dan menjadi kekuatan yang menstrukturkan[4]

Bourdieu memiliki pandangan tersendiri tentang habitus, yaitu  sistem disposisi yang bertahan lama dan dapat berubah, struktur yang terstruktur, berpengaruh dan berfungsi sebagai struktur yang membentuk struktur, prinsip yang menghasilkan dan mengorganisir praktik dan representasi, secara objektif dapat disesuaikan dengan hasil tanpa menuntut kesadaran yang mengarah pada suatu tujuan atau mengekspresikan penguasaan tindakan yang penting untuk mencapainya (Bourdieu, 1990:53).

Pandangan dan definisi Bourdieu tentang habitus menunjukan adanya penolakan pandangan objektivisme, subjektivisme, dan perilaku rasional. Bagi Bourdieu, individu yang tindakannya nampak seperti koor tanpa konduktor dibentuk oleh habitus (Purwanto, 2013).  Habitus dibentuk oleh posisi individu dalam arena (field), dan arena merupakan jaringan hubungan obyektif di antara posisi. Posisi yang dimaksudkan ialah agen atau institusi yang secara objektif mempengaruhi individu yang mendudukinya. Bourdieu (1992:97) menggambarkan arena sebagai struktur distribusi dan spesies kekuasaan (modal) yang pemiliknya memberikan akses pada keuntungan-keuntungan spesifik yang menjadi sasaran dan akan dicapai dalam arena tersebut. Ruang lingkup sosial masyarakat merupakan arena sesuai dengan diferensiasi tingkat sosial. Di dalam rana, para aktor (individu maupun kelompok) berusaha untuk meningkatkan posisinya pada tangga stratifikasi dengan mengakumulasi modal.

Ranah merupakan arena kekuatan yang di dalamnya terdapat upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber daya (modal) dan juga demi memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hierarki kekuasaan. Ranah juga merupakan arena pertarungan di mana mereka yang menempatinya dapat mempertahankan atau mengubah konfigurasi kekuasaan yang ada. Struktur ranahlah yang membimbing dan memberikan strategi bagi penghungi posisi, baik individu maupun kelompok untuk melindungi atau meningkatkan posisi mereka dalam kaitannya dengan pencapaian sosial. Konsep ranah tidak bisa dilepaskan dari ruang sosial (social space) yang mengacu pada keseluruhan konsepsi tentang dunia sosial. Konsep ini memandang realitas sosial sebagai suatu topologi (ruang), artinya pemahaman ruang sosial mencakup banyak ranah di dalamnya yang memiliki keterkaitan satu sama lain dan terdapat titik-titik kontak yang saling berhubungan. Dengan kata lain, ranah memiliki struktur dan kekuatan tersendiri (Fashri, 2014 : 106)

(habitus x modal)+ ranah = praktik merupakan relasi-relasi antara habitus dan ranah mengenai tindakan (praktik) yang juga merupakan produk sejarah. Dalam suatu ranah, terdapat pertaruhan kekuatan-kekuatan, dan orang yang memiliki modal besar dan orang yang tidak memilik modal. Memahami konsep ranah berarti mengaitkannya dengan modal. Istilah modal digunakan oleh Bourdieu untuk memetakan hubungan-hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Ide Bourdieu tentang modal lepas dari pemahaman dalam tradisi marxian dan juga dari konsep ekonomi formal. Konsep ini mencakup kemampuan melakukan kontrol terhadap masa depan diri sendiri dan orang lain. Istilah modal membuat beberapa ciri penting, yaitu : modal terakumulasi melalui investasi, modal bisa diberikan kepada yang lain melalui warisan, modal dapat memberi keuntungan sesuai dengan kesempatan yang dimiliki oleh pemiliknya untuk mengoperasikan penermpatannya (Fashri, 2014 : 108).

Bourdieu, menegaskan bahwa modal merupakan kerja yang terakumulasi, modal menjadi dasar, membentuk dan mempertahankan tatanan sosial (Bourdieu, 2002: 281). Bourdieu memaknai modal tidak hanya sebagai benda material yang terlihat tetapi juga tidak terlihat secara fisik (intengible). Modal memiliki makna ketika berada dalam sebuah arena (field), sebagai basis dominasi. Modal dapat dikonversi menjadi bentuk yang berbeda-beda sehingga menunjukan karakteristik (convertible), modal yang memiliki tingkat konversi yang paling tinggi ialah jenis atau tipe modal yang dapat dikonversi menjadi modal simbolik sehingga memberikan legitimasi (legitimate authority) kepada seseorang mengenai kelas dan statusnya.

Bourdieu mengklasifikasikan jenis atau tipe modal berdasarkan kelas, yakni modal yang berperan dalam masyarakat dan menentukan kekuasaan dalam hubungan sosial maupun ketidaksetaraan sosial yakni modal ekonomi (economic capital) yaitu modal fisik berupa aset tetap maupun aset lancar, modal sosial (sosial capital), modal budaya (cultural capital), modal simbolik (simbolic capital). Modal tersebut membentuk struktur pada lingkup sosial berdasarkan diferensiasi dan distribusi. Aktor maupun kelompok didefinisikan berdasarkan besar modal atau akumulasi dari  komposisi modal tersebut.

Secara umum, modal ekonomi menunjukan adanya kepemilikan atas sumber ekonomi, modal sosial mencakup jaringan atau hubungan sosial yang dimiliki aktor dalam menentukan reproduksi kedudukan sosialnya untuk mobilisasi kepentingan. Modal budaya dapat ditinjau dari pengetahuan objektif, cita rasa dan preferensi, kualifikasi formal (institusional), kemampuan budaya (cultural skill) seperti kemampuan menulis, berbahasa, sopan santun, cara bergaul, serta kemampuan praktis (memainkan alat musik). Disisi lain, modal simbolik mencakup status atau kedudukan aktor, otoritas dan prestise, seperti nama besar secara turun-temurun dikenal dan dihormati banyak orang, posisi dalam karir (direktur, dosen, menteri) yang mengacu pada nama aktivitas atau kelompok (Gomulia,dkk, 2014).

Tabel 1. Kodifikasi Modal Bourdieu

Bourdieu Capital Related Codes
Economic Capital Money, Assets, Cash, Costs, Prices, Investment, Loan, Morgages, Goods.
Cultural Capital Skills, Knowledge, Know-how, Values, Norms, Education, Qualifications, Understanding, Cultural, Artifacts, Experiences, Awareness of the Culture of Farm
Social Capital Networks, Meetings, Friends, Family, Isolation, Tension, Community, Market, Changes, Industry Union, Social Connections, Professional Acquaintances
Simbolic Capital Identity, Born to farm, Tradition, Status, Ownership, Pride emotion, Symbolic resources, Land, Farm

Sumber : Capital Usage in Adverse (Glover 2010, hal 489)

Bourdieu membedakan empat modal yaitu modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Dalam kondisi stabil, orang yang memiliki banyak modal ekonomi cenderung memiliki banyak modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik (Bourdieu, 2002:281). Bourdieu membedakan modal budaya menjadi tiga bentuk. Pertama, bentuk embodied misalnya pengetahuan, keahlian, atau keterampilan teknis, selera, disposisi artistik, dan sebagainya. Kedua, bentuk obyektif misalnya resep, formula, barang seni, perangkat komputer, dan sebagainya. Ketiga, institusional modal budaya yang berwujud misalnya ijazah atau sertifikat (Bourdieu, 2002: 282). Arena produksi budaya merupakan arena yang memproduksi barang bernilai simbolik. Berdasarkan otonomi dalam evaluasi produknya, Bourdieu membedakan arena produksi menjadi dua ranah yaitu arena produksi budaya terbatas (APBT) dan arena produksi budaya skala besar (APBSB). Arena produksi budaya terbatas menghasilkan produk seni demi seni itu sendiri atau seni tingkat tinggi (highbrow); arena produksi budaya skala besar memproduksi barang seni populer atau masal (lowbrow). APBT memproduksi barang seni untuk para produsen sendiri dan karena itu evaluasinya bersifat otonom, dan kriteria evaluasi ditentukan oleh para seniman sendiri. Sedangkan APBSB memproduksi barang seni untuk para konsumen awam yang memiliki kemampuan untuk membelinya, sehingga tidak bersifat otonom karena evaluasinya ditentukan oleh para konsumen yang kurang terdidik dalam dunia seni (kaum awam) sehingga kekuatan pasar yang menentukan bentuk-bentuk seni yang akan diproduksi (Bourdieu, 1993:115-116).

Bourdieu mendefinisikan modal sosial sebagai agregat sumberdaya aktual dan potensial yang dikatikan dengan pemilikan jaringan hubungan perkenalan dan pengakuan yang terlembaga dan awet, atau dengan kata lain pada anggota dalam suatu kelompok yang memberikan tiap anggotanya dukungan modal yang dimiliki secara kolektif, ‘kepercayaan’ yang memungkinkannya mendapatkan kredit dalam berbagai pengertian kata (Bourdieu, 2002: 286). Konsep modal sosial yang dikemukakan Bourdieu menekankan pada penutupan jaringan sosial untuk mendapatkan keuntungan secara efektif. Konsepnya mengandaikan solidaritas kelompok yang mengimplikasikan konflik sosial yang aktual atau potensial dalam perjuangan memperebutkan modal ekonomi, modal budaya dan modal sosial dalam masyarakat.

Pandangan Bourdieu terkait dengan bentuk modal, memiliki banyak peluang untuk intepretasi. Kodifikasi modal Bourdieu oleh Glover (2010) secara spesifik telah menunjukan hal-hal yang termasuk dalam modal ekonomi, budaya, sosial, maupun modal simbolik, namun secara spesifik Ekowati dkk (2015) menunjukan adanya modal manusia (intelektual) sebagai aset tak berwujud sebagai bagian dari modal ekonomi, sebagai faktor penyebab suksesnya lembaga/institusi. Rupidara (2008) menegaskan bahwa modal manusia (intelektual) didudukan pada tempat strategis dalam konteks kinerja atau kemajuan suatu organisasi dan masyarakat karena fenomena pergeseran tipe masyarakat dari industrialis dan jasa ke masyarakat pengetahuan, serta perusahaan pada tataran mikro mengalami kesulitan untuk mengaitkan perkembangan dalam konteks persaingan dan pencarian basis keunggulan kompetitif.

Perspektif Bourdieu dalam Berbagai Kajian

Pandangan Pierre Bourdieu memberikan peluang bagi banyak peneliti untuk berinterpretasi terhadap suatu fenomena sosial, serta peran aktor dalam ranah atau arena.Penelitian tentang peran modal menurut Bourdieu telah banyak dilakukan, seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Kudubun (2012) yang menggunakan teori Pierre Bourdieu tentang habitus, ranah, dan modal untuk mengungkap pergulatan budaya antar kelas sosial, ketika memperebutkan modal dalam ranah. Lebih jauh, Arwanto, (2015); Andayani, (2014); dan Syahril, (2015) mengkaji tentang arena produksi budaya. Adapun kajian tentang konsep habitus, dikaji lebih dalam oleh berbagai peneliti antara lain : Hendra (2015); Lutfi (2015); Mahmud (2015); Mutahir (2009). Selain itu, Nugraha (2014) dan Astika (2013) secara mendalam mengkaji tentang pertarungan dalam ranah untuk mencapai sebuah posisi. Lebih jauh Anwar (2013) mengkaji tentang disposisi dan pencapaian dalam ranah sosial, dan  Kautsar (2013) memanfaatkan teori Bourdieu mengenai modal untuk menganalisa hubungan antar negara dan masyarakat di Indonesia.

Lebih jauh, teori Bourdieu juga dimanfaatkan untuk melakukan penelitian mengenai bisnis. Lindstrand dkk (2011) melakukan penelitian tentang pemanfaatan modal sosial individu di perusahaan bioteknologi. Selanjutnya, Ellis (2000) mengkaji tentang pemanfaatan jaringan sosial dari pendiri maupun pengelola untuk mengakses sumber daya perusahaan manufaktur. Sementara itu, Kontinen & Ojala (2010) mengkaji tentang pemanfaatan modal sosial dalam perusahaan milik keluarga. Hal ini menunjukan bahwa perspektif Bourdieu, tidak hanya dimanfaatkan untuk mengkaji fenomena sosial semata, melainkan dapat diterapkan pada kajian usaha mikro kecil menengah sebagai arena atau ranah. Perspektif Bourdieu dalam kajian sebelumnya, lebih banyak pada pemanfaatan modal sosial dalam berwirausaha, sementara Bourdieu juga membahas modal yang lain yaitu modal ekonomi, budaya, dan simbolik. Oleh karena itu, kajian mengenai pemanfaatan modal yang lain masih perlu dilakukan.

Berdasarkan penelitian lanjutan dari perspektif Bourdieu, peneliti berasumsi bahwa perjuangan dalam arena untuk mendapatkan modal memunculkan stratifikasi sosial di antara para pengusaha. Pengusaha dominan akan mempertahankan posisinya pada puncak hierarki tidak hanya dengan mengakumulasi modal ekonomi, tetapi juga mengembangkan pandangan atau visi dan mengimplementasikannya dalam arena. Oleh sebab itu, pengusaha subordinat cenderung melakukan tindakan resistensi terhadap pengusaha dominan dengan mengembangkan ide atau pandangan yang berbeda dengan pengusaha dominan dalam ranah atau arena (field). Bourdieu memberikan gambaran bahwa (habitus x modal) + ranah = praktik yang menunjukan suatu realitas sosial di mana para aktor akan berupaya memperebutkan sumber daya (modal) untuk mempertahankan posisinya dengan menjadi dominan. Berkenan dengan pemikiran Bourdieu, dalam penelitian ini akan diuraikan secara mendalam pengalaman empirik pengusaha seni kerajinan perak ketika merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha dalam perspektif pemanfaatan bentuk modal (capital) bagi keberlanjutan usaha.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, sehingga mampu menguraikan pengalaman empirik pengusaha maupun migran sebagai pengrajin, ketika merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha dalam kaitannya dengan kebudayaan lokal. Disisi lain, teknik pengambilan data di lapangan yang dapat digunakan sebagai strategi awal ialah dari pintu ke pintu (dor to dor). Sehingga, dalam proses pengambilan data tersebut, dapat membuka jalan kepada teknik pengambilan data berikutnya yaitu snow bawl, dimana pengusaha maupun migran sebagai pengrajin akan memberikan rekomendasi orang-orang yang dapat melakukan wawancara. Hal tersebut sangat membantu peneliti untuk memperoleh informasi yang dapat diandalkan atau dapat dipercaya untuk menjawab pertanyaan penelitian. Proses pengelolaan data dapat dilakukan dengan membuat transkrip hasil wawancara, kemudian dilanjutkan dengan proses pemetaan berdasarkan tema atau matriks untuk memudahkan proses penulisan laporan penelitian pada bab empirik. Proses pengambilan data dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi berupa alat rekaman suara, maupun kamera untuk mendokumentasi proses penelitian di lapangan.

Pembahasan

Pemanfaatan Modal oleh pengusaha penduduk lokal dan pengusaha migran, menunjukan adanya perbedaan dalam dinamika berwirausaha. Akumulasi modal yang dimanfaatkan oleh pengusaha seni kerajinan perak selalu bertambah dan tidak bersifat konversi pada setiap tahapan (arena). Hal tersebut berarti bahwa modal yang diperoleh pada tahap merintis, dimanfaatkan pengusaha hingga memperoleh modal lain pada tahap mengembangkan usaha. Sementara itu, modal yang telah diperoleh pada tahap merintis dan mengembangkan usaha, tidak dikonversi (convertable) melainkan diperluas untuk mencapai modal selanjutnya yang dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan usaha. Modal yang dimaksudkan ialah modal budaya, modal sosial, modal ekonomi dan modal simbolik sesuai dengan perspektif Pierre Bourdieu. Pada pembahasan ini akan diuraikan secara mendalam pembahasan tentang pemanfaatan modal oleh pengusaha penduduk dan pengusaha migran, sebagai berikut.

Pemanfaatan Modal oleh Penduduk Lokal

Pada pembahasan ini, akan diuraikan pemanfaatan modal sosial, budaya, ekonomi dan simbolik oleh penduduk lokal ketika belajar menjadi pengrajin, merintis usaha, mengembangkan dan mempertahankan usaha.

Pemanfaatan Modal ketika Belajar menjadi Pengrajin

Modal Budaya memiliki peran yang sangat esensial dalam berwirausaha. Pengalaman empirik penduduk lokal sebelum merintis usaha ialah belajar menghasilkan seni kerajinan perak dari para pengrajin terdahulu yakni orang tua maupun kerabat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kearifan budaya, yang mencerminkan adanya modal budaya. Berkenan dengan modal budaya, penduduk lokal ketika belajar seni kerajinan perak melakukan produksi menggunakan perangkat kerja sederhana (tradisional) dan mengandalkan keterampilan tangan dalam proses produksi, hal tersebut dilakukan dan diwariskan secara turun-temurun karena bagian dari kebudayaan soroh pande sehingga menjadi kebiasaan atau kebudayaan masyarakat di desa Celuk (embodied/habitus), penduduk lokal menghasilkan produk seni kerajinan perak yang orisinal dalam hal desain yakni jawan dan bun dengan motif dan bentuk yang beragam (obyektif), penduduk lokal juga memiliki latar pendidikan perguruan tinggi dan memiliki ijazah sarjana (institusional) sehingga dapat mengembangkan dan mempertahankan usahanya secara optimal. Seperti halnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Purwanto (2013) tentang modal budaya dan modal sosial dalam industri seni kerajinan keramik pada klaster industri Kasongan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta yang secara mendalam mengkaji tentang pemanfaatan modal budaya pada arena produksi ekonomi sehingga membantu mobilitas sosial vertikal para pengusaha, dominasi dan resistensi antar pengusaha, serta peran modal sosial dalam mengembangkan arena. Purwanto (2013) memberikan argumen tesisnya bahwa modal budaya bisa mengubah klaster industri kerajinan yang semula memproduksi keramik fungsional-tradisional menjadi klaster yang memproduksi keramik artistik dan bernilai simbolik. Pengusaha yang menguasai modal budaya mempercepat mobilitas vertikal ke atas, sedangkan pengusaha yang menguasai modal sosial dapat melancarkan transaksi antar pengusaha, dan dapat mendorong pengusaha menguasai modal ekonomi. Hasil temuannya menunjukan bahwa keterampilan tangan juga merupakan bagian dari modal budaya dan menentang peneliti terdahulu seperti (Lamont , dkk : 1988; Lareau et al, 2003) yang mengaitkan modal budaya dengan budaya orang-orang berstatus tinggi (highbrow) dalam mempertahankan posisi kelas, sehingga hal-hal terkait keterampilan tangan tidak termasuk budaya, karena bersifat embodied, obyektif, dan institusional. Namun, Purwanto (2013) berhasil menunjukan bahwa seniman pengusaha yang menduduki posisi tinggi memiliki disposisi artistik yang tinggi (embodied/habitus) untuk menghasilkan desain artistik (obyektif) dan memiliki ijazah sarjana seni (institutional).

Pemanfaatan Modal ketika Merintis Usaha

Modal sosial merupakan bagian yang sangat penting pada tahap merintis usaha, setelah memanfaatkan modal budaya. Interaksi dan komunikasi antar individu dengan pengrajin terdahulu, baik keluarga maupun kerabat dengan tujuan untuk mempelajari teknik menghasilkan seni kerajinan perak, menunjukan adanya jaringan yang dibangun melalui interaksi dan komunikasi untuk mempelajari teknik produksi seni kerajinan perak. Dengan demikian, pengalaman empirik penduduk lokal menunjukan adanya modal sosial yang dimanfaatkan untuk merintis usaha seni kerajinan perak. Dalam proses merintis usaha, penduduk lokal selaku pengrajin berusaha untuk mengakses pasar dan sumber daya dengan bekerja di tempat usaha seni kerajinan perak maupun dengan cara menjual produk seni kerajinan perak secara langsung kepada pembeli. Penduduk lokal selaku pebisnis memanfaatkan jaringan atau hubungan sosial dengan kerabat selaku pebisnis seni kerajinan perak, sehingga dapat mengakses pasar dan sumber daya dengan mudah. Sebagai penduduk yang memiliki kesamaan latarbelakang kepercayaan agama, yaitu sesama penganut kepercayaan dan kebudayaan agama Hindu, merupakan kewajiban bersama untuk saling membantu satu dengan yang lain guna mewujudkan kesejahteraan bersama. Ikatan budaya masyarakat lokal mendorong kebersamaan dan interaksi sosial, sehingga proses merintis usaha dapat dilakukan dengan baik sehingga membentuk norma atau nilai dalam berbisnis. Nilai atau norma yang terbentuk ialah rasa kekeluargaan antar pengusaha, pengrajin dengan pembeli, sehingga dapat membentuk dan menjaga kepercayaan.

Jaringan yang terbentuk antar pengusaha, antar pengrajin, maupun antar pengusaha dan pengrajin terwujud dalam bentuk membagi produksi pesanan kepada pengusaha atau pengrajin sehingga sama-sama memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Selain itu, jaringan dapat dimanfaatkan sebagai media untuk bertukar informasi dan saling memberi motivasi guna mengembangkan usaha masing-masing. Adanya, kegiatan membagi produksi pesanan pembeli kepada pengusaha maupun pengrajin, membentuk hubungan timbal-balik sehingga saling menguntungkan. Seperti halnya, penelitian yang dilakukan oleh Verawati (2012) yang mengkaji tentang peran modal sosial dan budaya dalam strategi industri kreatif, secara khusus menguraikan pengalaman pengusaha seni kerajinan kayu jati di Desa Jepon Blora Jawa Tengah, yang memanfaatkan modal sosial sejak mempelajari teknik menghasilkan seni kerajinan kayu Jati, hingga memasarkan produk tersebut. Namun, lebih dalam Verawati (2012) fokus mengkaji norma, kepercayaan, jaringan dan resiprositas dalam modal sosial secara mendalam, di mana norma yang ada menyangkut aturan dalam memperoleh bahan baku terkait dengan penetapan harga produk, transaksi dengan pembeli sehingga membentuk kepercayaan antar sesama pengusaha dan pembeli. Disisi lain, jaringan yang dibangun oleh pengusaha seni kerajinan kayu ialah jaringan antar pedagang (pemasaran produk), antar pengrajin (informasi produk berkualitas), jaringan antar pedagang dengan pengrajin (distribusi produk). Adapun jaringan yang dibangun pengusaha membentuk pola resiprositas (timbal-balik) antara pedagang dan pengrajin, ketika produk yang diinginkan pembeli tidak tersedia oleh penjual karena kehabisan persediaan produk (stock), maka pengusaha akan mengambil dari tempat usaha di sekitarnya.

Pemanfaatan Modal ketika Mengembangkan Usaha

Modal budaya dan modal sosial yang dimanfaatkan pengusaha, dapat menghasilkan modal ekonomi yang memiliki peran penting dalam mengembangkan usaha. Penduduk lokal setelah merintis usaha, dapat mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan pendapatan dari pekerjaan sebagai pengrajin untuk meningkatkan keterampilan atau kemampuan manajerial melalui pendidikan formal. Sebagaimana pengalaman informan yang memanfaatkan pendapatan dari pekerjaan sebagai pengrajin untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan mempelajari teknik manajemen perusahaan jurusan ekonomi manajemen, sehingga dapat menerapkan strategi pemasaran dan produksi, serta mengelola tenaga kerja untuk keberlangsungan usaha. Hal ini menunjukan bahwa, modal ekonomi dapat diperoleh setelah memanfaatkan modal sosial dan budaya dalam merintis dan mengembangkan usaha seni kerajinan perak.

Penduduk lokal dalam merintis usahanya berusaha untuk menempatkan posisi mengatasi persaingan di pasar seni kerajinan perak desa Celuk. Upaya untuk mengatasi persaingan dilakukan pengusaha dengan mengubah cara menjalankan bisnisnya. Perubahan yang dimaksud ialah cara atau strategi untuk merintis usahanya sehingga mampu mengakses pasar internasional. Beberapa pengusaha tidak hanya berfokus pada aset atau sumber daya lahan, perangkat produksi, dan biaya yang dimiliki melainkan berfokus pada kemampuan menatakelola usaha sehingga berbasis ilmu pengetahuan. Pengalaman I Made Marjana dan I Kadek Mustika dalam menatakelola sistem produksi dimulai dari pemanfaatan perangkat tradisional hingga perangkat modern menunjukan adanya perubahan tatakelola untuk memperluas akses pasar regional hingga internasional dan menjaga keberlanjutan usaha. Disisi lain, keduanya menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi jurusan ekonomi manajemen sehingga memiliki keterampilan menatakelola usaha secara optimal ketika merintis dan mengembangkan usaha. Keduanya memiliki akses terhadap modal biaya dari bank  karena mampu memenuhi syarat dan ketentuan sebagai jaminan. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Ekowati, dkk (2015) secara khusus membahas tentang pengaruh modal fisik, modal ekonomi, dan modal intelektual terhadap kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur di bursa efek indonesia. Secara mendalam, Ekowati dkk (2015) mengkaji tentang modal fisik sebagai sumber ekonomi maupun kapasitas produksi yakni kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa yang terdiri dari aset lancar dan aset tetap. Aset lancar mencakup keterampilan operasional usaha, dan aset tetap yang dimaksud ialah peralatan, mesin, bangunan, kendaraan, dan tanah. Tersedianya modal fisik pada industri manufaktur berfungsi untuk menyelenggarakan luas produksi sehingga kontinuitas usaha akan terjamin. Disisi lain, definisi modal ekonomi yang sebagai landasan asumsi yang dibangun dalam penelitian tersebut ialah jumlah pinjaman yang tertanam di perusahaan. Sehingga, semakin baik kinerja perusahaan di mata kreditor maka semakin tinggi tingkat kepercayaan kreditor untuk meminjamkan dananya kepada perusahaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa modal fisik, modal ekonomi sangat mempengaruhi kinerja perusahaan sehingga menjamin keberlanjutan usaha.

Pemanfaatan modal fisik, modal ekonomi dan modal intelektual oleh pengusaha industri seni kerajinan perak dapat dilihat pada bab empirik, tentang pengalaman penduduk lokal selaku pengusaha ketika merintis dan mengembangkan usahanya. Pengusaha yang memiliki aset tetap berupa lahan, peralatan produksi, bangunan, bahkan kendaraan sebagai penunjang usaha seni kerajinan perak sebagai modal fisik. Disisi lain, modal ekonomi yang diperoleh pengusaha dari pendapatan sebelumnya, juga didukung oleh kreditor (bank) yang memberikan pinjaman dana kepada pengusaha ketika mengembangkan usaha seni kerajinan perak miliknya.

Pemanfaatan Modal ketika Mempertahankan Usaha

Modal simbolik menjadi sangat esensial dalam berwirausaha. Setelah modal simbolik, pengusaha dapat memperluas modal budaya, sosial, dan ekonomi untuk mempertahankan usaha. Pengusaha seni kerajinan perak juga dapat memanfaatkan jabatan atau kedudukannya sehingga dapat menunjang keberlanjutan usahanya. Sebagaimana pengalaman I Made Marjana, selain memimpin dan mengelola perusahaan seni kerajinan perak, beliau juga menjabat sebagai ketua di sebuah lembaga adat desa yakni kelihan dinas desa Celuk. Beliau dikenal banyak orang karena posisi dalam lembaga yang menangani masalah kependudukan, selain itu beliau dihormati oleh penduduk lokal karena aktif dalam kegiatan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat lokal. Disisi lain, pengalaman I Kadek Mustika yang aktif dalam kegiatan kebudayaan lokal, membentuk persepsi masyarakat lokal terhadap beliau sebagai seorang yang dekat dan memperhatikan masyarakat lokal. Dukungan masyarakat lokal terhadap beliau, nampak ketika istrinya mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah di kabupaten Gianyar, dan terpilih karena dukungan masyarakat lokal. Masyarakat lokal memilih dan mendukung istri beliau, karena mengenal sosok I Kadek Mustika yang dekat dengan masyarakat lokal, aktif membantu masyarakat lokal, dan aktif dalam kegitan kebudayaan lokal. Kedudukan atau jabatan yang dimiliki istrinya, mampu mendukung bisnis seni kerajinan perak miliknya, seperti halnya  memudahkan berbagai pengurusan surat ijin pengiriman barang maupun ijin penggunaan sumber daya listrik ke perusahaan, guna menunjang proses produksi dan dapat mempertahankan usaha.

Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa modal simbolik dalam bentuk kedudukan dan jabatan di pemerintah desa juga dapat menunjang operasional bisnis dalam upaya  mempertahankan usaha seni kerajinan perak. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Gomulia dan Manurung (2014) tentang identifikasi modal keluarga pada tiga usaha kecil menengah di Bandung menunjukan adanya pemanfaatan modal simbolik dalam upaya mempertahankan usaha. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan adanya pemanfaatan modal ekonomi, modal sosial, dan modal budaya, namun secara khusus modal simbolik yang dikaji oleh Gomulia dan Manurung (2014) menguraikan adanya peran dari keluarga yakni ayah yang memiliki reputasi sehingga mampu menunjang keberlangsungan dari usaha.

Pemanfaatan Modal oleh Migran

Pada pembahasan ini akan  diuraikan pemanfaatan modal oleh migran dalam proses merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha mandiri sebagai pengrajin seni kerajinan perak.

Pemanfaatan Modal ketika merintis usaha

Modal budaya memiliki peran pentik dalam proses perintisan usaha. Migran sebelum melakukan migrasi ke desa Celuk, telah memiliki keterampilan menghasilkan seni kerajinan perak dari daerah asal. Sebagaimana migran asal Lumajang, Jawa Timur yang mempelajari teknik produksi seni kerajinan perak dari orang tua maupun kerabat, sebagai salah satu warisan budaya kriya perak di Lumajang. Migran sebelumnya telah bekerja di Lumajang, namun mengambil keputusan migrasi karena didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi individu karena adanya peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi di desa Celuk. Ketika migran tiba di desa Celuk, migran awalnya bekerja di tempat usaha penduduk lokal untuk beradaptasi dengan membangun hubungan sosial yang baik dengan pengrajin lain maupun pengusaha,  agar dapat mengakses pasar dan sumber daya di desa Celuk.

Migran sebagai pengrajin ketika merintis usaha seni kerajinan perak, memanfaatkan modal budaya. Berdasarkan informasi yang diterima dari informan, David Prasetya selaku pengrajin konvensional mengatakan bahwa beliau telah mempelajari seni kerajinan perak sejak menempuh Sekolah Menengah Pertama dari orang tuanya yang merupakan pengrajin seni kerajinan perak. Apabila ditinjau kembali faktor penarik dan pendorong migrasi, maka dapat diketahui bahwa alasan migrasi ke desa Celuk ialah alasan ekonomi, untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari daerah asal migran. Hal tersebut menunjukan adanya keterbatasan ekonomi oleh migran, sehingga harus bekerja di tempat usaha penduduk lokal sebagai bagian dari upaya untuk mempertahankan hidup dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Migran yang telah memiliki keterampilan seni kerajinan perak dari daerah asal, mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja di desa Celuk. Sebagaimana pengalaman David Prasetya yang memperoleh pengakuan sebagai spesialis perhiasan cincin, karena mampu menghasilkan produk cincin yang berkulitas. David Prasetya dalam proses merintis usaha mampu memperoleh perhatian pengusaha lokal untuk memberikan produksi pesanan karena keterampilan yang dimiliknya dari daerah asal. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa David Prasetya memanfaatkan modal budaya ketika merintis usaha. Demikian halnya dengan Tony Sugiarto, yang telah memiliki keterampilan seni kerajinan perak sejak dari daerah asal, sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja di desa Celuk dengan mudah. Tony ketika tiba di desa Celuk, langsung bekerja di perusahaan UD Romo dan mampu beradaptasi dengan kondisi perusahaan karena tidak harus mempelajari teknik produksi selayaknya pekerja yang belum memiliki keterampilan seni kerajinan perak. Ketika Tony berhenti bekerja dari perusahaan UD Romo, beliau membuka usaha secara mandiri dengan memanfaatkan keterampilan yang dimiliki dari daerah asalnya. Hal tersebut menunjukan bahwa migran memanfaatkan modal budaya ketika merintis usaha seni kerajinan perak.

Pemanfaatan Modal ketika mengembangkan dan mempertahankan usaha

Modal sosial sangat penting bagi migran, dalam proses mengembangkan dan mempertahankan usaha. Migran yang telah beradaptasi dan membentuk jaringan sosial dengan pengusaha maupun pengrajin di desa Celuk, memanfaatkan jaringan tersebut dalam proses merintis usaha jasa produksi secara mandiri. Migran memanfaatkan jaringan sosial dengan pengusaha lokal yang telah dibentuk selama bekerja di tempat usaha milik penduduk lokal, sehingga meskipun tidak lagi bekerja di tempat usaha penduduk lokal, migran masih memperoleh pemasukan melalui produksi pesanan oleh pengusaha yang telah dikenalnya sebelumnya. Hal tersebut menunjukan bahwa modal yang dimanfaatkan oleh migran sebagai pengrajin ketika merintis usaha ialah modal sosial dan modal budaya. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Sasongko dan Wahyuni (2015) tentang analisis modal sosial dalam usaha sektor informal oleh migran madura di kota Bogor Jawa Barat, yang mengkaji secara mendalam tentang jaringan, kepercayaan dan norma di kalangan migran ketika berada di daerah tujuan migrasi untuk mengembangkan dan mempertahankan usaha. Sasongko dan Wahyuni (2015) memaparkan argumen tesis bahwa migran dalam menjalankan usaha, memiliki keterbatasan aspek keuangan sehingga hanya memanfaatkan modal sosial yang dimiliki. Hasil temuannya menunjukan bahwa, migran yang telah tiba di daerah asal cenderung membangun hubungan yang kuat berbasis persaudaraan maupun pertemanan sehingga membentuk migrasi berantai. Migran yang telah bekerja di daerah tujuan akan menyalurkan informasi tentang daerah tersebut agar dapat melakukan migrasi.

Perbedaan Pemanfaatan Modal antara Penduduk Lokal dan Migran

Perbedaan pemanfaatan modal menunjukan adanya pertarungan memperebutkan sumber daya (modal)  di arena yang berpotensi menimbulkan diferensiasi dalam stratifikasi sosial. Penduduk lokal dan migran memiliki perbedaan dalam hal akses terhadap modal. Berbeda dengan penduduk lokal yang dapat memanfaatkan modal sosial, budaya, ekonomi, dan simbolik,  migran sebagai pengrajin terbatas pada pemanfaatan modal sosial dan budaya mulai dari pengalaman merintis hingga pengalaman mengembangkan dan mempertahankan usaha. Migran memiliki keterbatasan akses terhadap biaya dan sumberdaya lahan untuk mendirikan toko seni selayaknya penduduk lokal, karena tingginya harga lahan dan biaya untuk mendirikan bangunan serta birokrasi pemerintah desa Celuk. Berdasarkan hal tersebut, migran hanya mengandalkan modal budaya dan modal sosial yang dimiliki.

Perbedaan penguasaan modal antara penduduk lokal dan migran sebagai pengrajin maupun pengusaha menunjukan adanya pertarungan di dalam arena (field) sehingga membentuk diferensiasi dalam stratifikasi sosial masyarakat di desa Celuk. Hal tersebut terjewantahkan dalam upaya mengembangkan dan mempertahankan usaha seni kerajinan perak, di mana penduduk lokal dapat mengembangkan dan mempertahankan usahanya dengan mengakumulasikan modal sosial, modal budaya, modal ekonomi dan modal simbolik. Sedangkan, migran sebagai pengrajin terbatas pada modal sosial dan modal budaya. Selain itu, penduduk lokal sebagai pengusaha toko seni di desa Celuk menempati posisi dominasi pada stratifikasi sosial sedangkan migran sebagai pengrajin menjadi pengusaha subordinat sehingga menunjukan adanya diferensiasi dalam ranah sosial. Sebagaimana Bourdieu (2005) mengatakan bahwa hubungan dominasi, apakah material atau simbolik, selalu menghasilkan resistensi. Pengusaha yang dominan dalam bidang apapun selalu menghasilkan kekuatan tertentu karena masuk dalam arena juga berarti bahwa per definisi orang mampu menghasilkan efek di dalamnya.

Kesimpulan

Penduduk lokal maupun migran membangun jaringan sosial, kepercayaan, dan norma sebagai bentuk modal sosial ketika merintis usaha. Selain itu, keterampilan tangan sebagai pengrajin dalam menghasilkan karya seni yang berkualitas sebagai kriya perak menunjukan modal budaya yang dimanfaatkan dalam merintis usaha. Penduduk lokal sebagai pengusaha toko seni kerajinan perak dalam proses mengembangkan usaha, memanfaatkan modal ekonomi. Pada ranah mengembangkan usaha, migran sebagai pengrajin tidak menguasai modal ekonomi karena keterbatasan akses, sehingga migran hanya memanfaatkan modal sosial dan budaya hingga pada ranah mempertahankan usaha. Berbeda halnya dengan penduduk lokal sebagai pengusaha toko seni, ketika mempertahankan usaha dapat memanfaatkan modal simbolik dalam bentuk jabatan atau kedudukan, sehingga menunjang keberlanjutan usaha miliknya. Dengan demikian,  pemanfaatan modal (capital) oleh penduduk lokal dan migran sebagai pengrajin maupun pengusaha dalam upaya merintis, mengembangkan dan mempertahankan usaha seni kerajinan perak, sesuai dengan pandangan Pierre Bourdieu tentang adanya posisi dominasi kekuasaan oleh penduduk lokal selaku pengusaha toko seni yang nampak melalui diferensiasi pada stratifikasi sosial, dengan migran sebagai pengrajin di desa Celuk sebagai pengusaha subordinat.

Saran

Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, peneliti memberikan saran kepada pemerintah desa Celuk agar membuat kebijakan yang dapat mempermudah atau memberikan keringanan kepada migran sebagai pengrajin untuk mengakses modal (biaya pengembangan usaha seni kerajinan perak) dan sumber daya (lahan untuk tempat tinggal) tanpa harus melalui birokrasi yang sulit, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan sosial antara migran dan penduduk asli desa Celuk.

Partisipasi migran sebagai pengrajin di desa Celuk, dapat meningkatkan pertumbuhan industri seni kerajinan perak. Dengan adanya kebijakan atau program pemerintah yang memberikan kemudahan terhadap migran untuk mengakses modal melalui lembaga peminjaman modal, memberikan kesempatan bagi migran untuk mengembangkan dan mempertahankan usaha seni kerajinan perak selayaknya pengusaha penduduk lokal dan mengurangi kesenjangan sosial antara penduduk lokal dengan migran, yang mana berdasarkan perspektif Bourdieu menunjukan adanya perbedaan kelas antara pengusaha dominan dan pengusaha subordinat

Daftar Pustaka

Jurnal dan Buku

Andayani, Santi., 2014., Strategi Murakami Haruki dalam Meraih Puisi dan Legitimasi di Arena Sastra Jepang., Tesis., Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Anwar, Saeful., 2013., Persada Studi Klub : Disposisi dan Pencapaiannya dalam Arena Sastra Nasional., Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Ariana, I Gusti Ngurah Putu., 2002., Perkembangan Industri Kerajinan Perak dan Emas di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar. Magister Perencanaan Kota dan Daerah Universitas Gadjah Mada.

Arwanto, Bagus., 2015., Ambivalensi Institusi Budaya (Kajian Kritis Memahami Bentara Budaya Yogyakarta Sebagai Galeri Seni dan Unit Bisnis Dalam Program Csr Pt. Kompas Gramedia). Skripsi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Astika, I Made., 2013., Pergulatan Umbu Landu Paranggi dalam Arena Sastra di Bali : Tinjauan Sosiologi Pierre Bourdieu., Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Bourdieu, P., 1972., Outline of Theory of Practice., Cambridge University Press

Bourdieu, P., 1982., The Form of Capital., In J. Richardson. Handbook of the theory and research for the sociology of education.

Bourdieu, P., 1990.,The Logic of Practice. Standford, CA : Stanford University Press.

Bourdieu, P., 1992., An Invitation To Reflexive Sociology. Chicago : The University of Chicago Press.

Bourdieu, P., 1993., The Field of Cultural Production. Columbia : Columbia University Press.

Bourdieu, P., 2002., The Form of Capital dalam Economic Sociologi(p.280-291), Neil J.Smelser (Eds.) Malden, Massachusetts : Blackwell Publishers, Ltd.

Bungin,Buhan., 2006., Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial. Perana Media Group : Kencana

Cresswell John W., 2007., Designing and Conducting Mixed Methods Research California : Thousand Oaks.

Creswell, J.W.1998. Quailtatif Inquiry and Research Desaign. Sage Publication, Inc : California.

Ekowati, S., Rusmana, O., Mafudi., 2015. Pengaruh Modal Fisik, Modal Finansial, dan Modal Intelektual terhadap Kinerja Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Universitas Jenderal Soedirman.

Ellis, P, D., 2000., Social Ties and Foreign Market Entry. Elsevier : Journal of International Business Review.

Fashri, F., 2014., Menyingkap Kuasa Simbol : Pierre Bourdieu. Yogyakarta : Jalasutra

Glover L., Jane., 2010., Capital Usage in Adverse Situations : Applying Bourdieu’s Theory of Capital to Family Farm Business, Journal Family Business Review.

Gomulia, Budiana & Manurung, E, M., 2014., Identifikasi Modal Keluarga Pada Tiga UKM di Bandung. Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan.

Hendra., 2011., Habitus menurut Pemikiran Pierre Bourdieu dalam Tinjauan Filsafat Kebudayaan., Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Hume, David., 2013., Tourism art and Souveniers : The material Culture of Tourism., Routledge.

Kautsar, Maulana., 2013., Peran Intelektual di Tengah Hubungan Negara dan Masyarakat dalam Pandangan Pierre Bourdieu : Suatu Telaah Sosiologi Ilmu., Skripsi., Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Kontinen, T., & Ojala, A., 2010., Network ties in the international opportunity recoznition of family SMEs, Elsevier : Journal of International Business Review.

Kudubun, Esra, E., 2012., Mereka yang Terdiskriminasi (Kajian Sosiologis tentang Strategi Ren-Ren dalam Menghadapi Dominasi Mel-Mel di Desa Ohoiwait, Kec. Kei Besar). Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO Universitas Kristen Satya Wacana.

Leri, A. Ayu., 2011., Dampak Pengeluaran Wisatawan Terhadap Perkembangan Sektor Ekonomi di Provinsi Bali. Universitas Udayana Denpasar.

Lindstrand, Angelika., Melen Sara., Nordman, E, Rovira., Turning Social Capital into Business : A Study of the Internationalization of Biotech SMEs. Elsevier : Journal of International Business Review.

Lodra, I Nyoma., 2011., Pengusaha Perak dan Tantangan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Bidang Hak Cipta di Desa Sukawati Gianyar. Bidang Ilmu Kajian Budaya Universitas Udayana.

Lutfi, Nafisatul., 2015., Searching for Identity : A Transnational Study of The Hippies In The 1960’s And It’s Aftermath., Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Mahmud, Azizah., 2015., Strategi dan Posisi Abdurahman Faiz dalam Arena Sastra Indonesia Pasca-orde Baru : Analisis Produksi Kultural Pierre Bourdieu., Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Moyes, D., Ferri Paul., Henderson, Fiona., Whittam, Geoffrey., The Stairway to Heaven ? The Effective Use of Social Capital in New Venture Creation for a Rural Business. Journal of Rural Studies.

Mutahir, Arizal., 2009., Intelektual Kolektif Gerakan Ilmiah untuk Melawan Dominasi : Pandangan Pierre Bourdieu tentang Intelektual. Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Nugraha, Setia, Latief., 2014., Emha Ainun Nadjib Dalam Arena Sastra dan Arena Sosial., Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Nugraha., 2009., Pengelolaan Modal Pengetahuan pada Usaha Kecil Menengah. Disertasi. Depok : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Purwanto, Antonius., 2013., Modal Budaya dan Modal Sosial dalam Industri Seni Kerajinan Keramik., Pusat Kajian Sosiologi, LabSosio FISIP-UI.

Sasongko, A,T, Yakop & Wahyuni, Ekawati., 2015., Diaspora Madura : Analisis Modal Sosial dalam Usaha Sektor Informal oleh Migran Madura di Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB.

Spradley, James, P.1997. Metode Etnografi. Yogyakarta : PT Tiara Wacana.

Syahril, 2012., Arena Produksi Kultural dan Kekerasan Simbolik Analisis Terhadap Novel BanAt Al-riyAdh Perspektif Sosiologi Pierre Bourdieu., Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Verawati,Sri.,2012.,Peran Modal Sosial Dalam Strategi Industri Kreatif. Program Studi Pendidikan Sosiologi Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta

Wall, Geoffrey., 1996., Perspectives on Tourism in Selected Balinese Villages. Britain : Pergamon

Wiyasa & Sumantra., 2008., Kerajinan Perak di Desa Celuk : Kajian Aspek Desain dan Inovasinya. Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar.

Yuliasari, dkk., 2013., Tinjauan Geografi Penduduk Tentang Pemanfaatan Pekerja Wanita Pada Industri Kerajinan Perak di Desa Celuk, Kecamatan, Sukawati, Kabupaten Gianyar. Pendidikan Geografi, Undiksha Singaraja.

Website

[1]http://soeharto.co/1973-11-14-presiden-soeharto-resmikan-fasilitas-wisata-di-bali

[2] 1969-1973 (pelita I) : 885,665; 1974-1978 (pelita II) : 2.006.314; 1979-1983 (pelita III) : 2.893.660; 1984-1988 (Pelita IV) : 4.636.892; 1989-1993 (pelita V) : 12.710.856 sumber Statistik Pariwisata Bali tahun 2006.

[3] http://www.disparda.baliprov.go.id/id/Statistik2

[4] Pandangan Dr. Pamerdi Giri Wiloso, M.Si. dalam ujian Tesis tanggal 29 July 2015.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s